Kimia Medisinal 2
Adanya variasi genetik menyebabkan perbedaan aktivitas dan kapasitas suatu enzim dalam menjalankan fungsinya. Nah, perbedaan genetik antara tiap orang akan dapat memberikan respon yang berbeda terhadap nasib obat dalam tubuh/ metabolisme obat.
Link YouTube https://youtu.be/IULRHBb04VY
Bagaimana cara mengetahui respon seseorang terhadap pemberian obat berdasarkan genetik, terhadap efek obat yang dikonsumsi ?
BalasHapusCara untuk mengetahui respon individu terhadap hal tersebut, yaitu dengan melakukan test DNA. Test ini bertujuan untuk mengetahui respon tubuh terhadap pemberian obat berdasarkan profile genetik untuk mengetahui jenis obat yang paling efektif dan informasi yang akan didapatkan pastinya sesuai profil DNA, yang memiliki banyak keuntungan, seperti pengobatan lebih optimal, memprediksi risiko terkena penyakit tertentu, dan mengenal jenis obat yang efektif untuk proses penyembuhan.
HapusPada asetilator cepat, dijelaskan bahwa pemberian INH harus berulang kali karena metabolisme obatnya yang sangat cepat, Namun bagaimana jika terjadi peningkatan dosis/penggunaan INH karena ketidak patuhan pasien akibat waktu terapi yang panjang ?
BalasHapusJika terjadi peningkatan dosis, mengakibatkan resistensi terhadap obat INH (antituberkulosis) yang terjadi karena mutasi pada gen. Mutasi gen ini sering disebabkan oleh inadekuatnya kadar terapeutik obat akibat ketidakpatuhan pasien dalam proses mengkonsumsi obat. Efeksamping yang ditimbulkan juga semakin tinggi dan menyebabkan terjadinya kerusakan sel hati.
HapusMengapa obat dengan tipe asetilator lambat yang dimetabolisme dalam bentuk asetil isoniazid yang tidak aktif dengan kecepatan lambat meningkatkan efek toksik dari INH ?
BalasHapusKarena pada rute metabolik utama asetilasi isoniazid menjadi asetilisoniazid oleh enzim N-asetiltransferase yg ditemukan dihati dan usus halus. Dalam hati, INH dimetabolisme menjadi asetilisoniazid oleh
HapusN-asetiltransferase, disertai dengan proses hidrolisis untuk menjadi
asetilhidrazin yang kemudian dioksidasi oleh sitokrom CYP2E1 menjadi senyawa intermediet yang bersifat hepatotoksik. Enzim N-asetiltransferase yang dimiliki asetilator lambat ini tidak sebanyak asetilator cepat, sehingga INH memiliki masa kerja yang panjang yaitu 140-200 menit dan dosis obat yang tinggi juga dapat meningkatkan efek toksik. Maka dari itu, pengobatan pada individu yang memiliki asetilator lambat, memerlukan dosis pengobatan yang rendah agar tidak menimbulkan peningkatan efek toksis yang oleh INH.